Bertemu di Simpang Waktu

August 9, 2007

Jika tujuan sama
tak perlu satu rimba
berjalan di langit sama
buat kita demam cuaca

banyak orang bertarung di rimba sama
mendustai dan membunuh
tak pernah temu
sebab hati susah satu

berpisah saja kita
di sini
ini jalanmu
ini jalanku
kita bertemu di simpang waktu
memeluk impi
Tak perlu orang tau

Depok, Januari 2006

Seteguh Burung

August 9, 2007

Bahkan burung titip hidupnya pada rumput gersang
ia rajut dari kepak musim letih
nyaring siulnya pertanda waktu belum mati
di pohon ia bangun mimpi  esok hari

begitulah, ia terbangi  waktu
dan percaya Allah memberi ilalang
meski dari sisa rerumputan jatuh dari lahapan kuda rimba
mamah gaibNya

ia tak pernah takut pada hari
walau suatu ketika kepaknya dirobek peluru pemburu
tersangkut di ranting pohon kering
seekor lebah menjatuhkan madu pada paruhnya yang pucat
reguk gaibNya

belajarlah pada burung ia tak pernah takut  hari jelang
sebab Allah menjamin hidupnya dengan bentangalam
teguhlah, segenggam hidup telah ditakar  dengan rezeki tiada duga

jadilah seteguh burung meski dengan kepak luka
percaya janjiNya
walau tak dapat menebak gaibNya.

Depok, 10 Agustus 2005

Sudahlah, tak akan pernah temu manis di laut garam
asin cekik dahaga tak pernah sudah
tak damai belanja uang api
tiap helainya membeli bara abadi
tiada tentram dalam cumbu nafsu
sebab ialah ular mematuk nadi amal

apa yang dapat dibuat duit api ?
hanya membakar jalan teduh
apa yang bisa reguk dari laut garam?
cuma haus panjang
sedang peluk nafsu ?
hanyalah kebangkrutan

laut hidup cendrung menipu
terbawa hempasan ombak
digulung badai ke pusar mati
terlempar jauh dari tamanNya

kawan, lautan hidup ini
jadikan samudra mengantar kita
ke dermagaNya

manis dari buah hati yang lindap
damai rumah jiwa yang rimbun
ada di tamanNya
aku mengajakmu kembali padaNya

Depok, Juli 2005

Merindu Allah

August 9, 2007

Aku telah lama pergi dariMu
pulang raib jalan kembali
dikurung rimba maya
menyiang bara menuai bara

bangun rumah api
tidur dalam nyalanya
membakar usia muda
kini datang merinduMu

bila Engkau pencipta layang layang
akulah layang layang itu
apalah daya, sejauh ia pergi
bakal kembali pada tanganMu

sebab angin, badai adalah milikMu
dan benang layang layang  itu
adalah nyawaku rapuh

ya  Allah
kembalikanlah jalan lurus
tempat pulang segala cahaya
cuma satu

ya Allah aku merinduMu
penjarakan aku dalam pelukMu
jangan lepas lagi

Jakarta, Agustus 2005

Hikayat Abad Tiba

August 9, 2007

Inilah negeri moyang
ketika abad hijau
air bening, tanah rimbun, langit biru
bumi mengandung matahari

moyang mereguknya
tahta negeri puing
wariskan dongeng surga
cucu telan remah peradaban

ini ranah moyang
milik anak zaman
berhamburan di perut nafsu  
mengunyah abad tiba

duka masa datang
bukan dosa musim
orang silam gotongroyong
menjarah usia

jika moyang ada di abad tiba
akan paham makna setetes air
selembar daun, sepercik api
ratapi abad lalu

Depok, Oktober 2005

Dibunuh Malam

August 9, 2007

Dikejar rajawali waktu
tunggang kuda pagi
pacu perburuan binatang kegelapan
taklukkan pertarungan siang
malam nyanyian pengembara pulang
 
banyak pengembara  hilang
tergoda rahim panorama rimba
dicumbu bianglala senja
lelap berpeluk maya

malam menerkam
binatang kegelapan hunus taringnya
mega hitam lumat rembulan
lari ? sia sia menabrak kelam

lalu angin penghabisan
bawa berita
pengembara dibunuh malam

Leuwiliang, Bogor 26 Pebruari 2005

Ziarah Diri

August 9, 2007

Ziarah diri
jiwaku pekat
matakalbu eja gelap

di padang debu
kelahiran mengantar diri
ke bui tubuh musim

lalu aku sepakati upacara hidup
sebagai narapidana waktu
bab demi bab hukuman berlari

Maha Hakim sediakan pintu
di setiap jeruji menitip kunci
ah, sering aku patahkan ia 

pada setiap bab aku menyeru
jangan bangun penjara lagi
walau di pasir air
walau di batu mati

hey narapidana !
kau burung sangkarcahaya
diri dikurung waktu
jiwa angkasa raya

bila lonceng terakhir  menjemput
bergegaslah pulang
kebebasan itu madu

Depok, 21 Juni 2005

Kuda

August 9, 2007

Hentak tenaga
melesat
di rimba darahku

meringkik garang
berlari
di sabana nadiku

lapar rumput langit
menggeliat
dalam risau

julang aku terbang
meninggalkan
kandangdiamku

kudaku
tak kuda bendi
tutup mata
mata buta
luka lecut kusir

tak kuda kepang
ditunggang akal hilang
sana sini
seruduk orang
tak kuda pacuan
taruhan orang ber-uang
gila angguk
tepuk riang

tak kuda kebun binatang
dielus senang
disuap makan
badan terkekang

tak kuda liar
puntangpanting
memacu bayang

larilari
letih
sendiri

kudaku
kuda sembrani
kuda para nabi

kuda
larilah kencang
rakit jembatan
walau di rahang jurang
 
Aish ……
kuda
larilah kuda
hentak tenaga
melesat ke awang
puncak dengus
nafas merdeka

Kebun Binatang Bukit Tinggi-Pekanbaru 1992

Aku meronda kunang kunang kata
sembunyi di balik bayang sendiri
jadi ilalang sepi
harap hinggap
acap mati di telapak berdebar

pada pencarian letih
ia terbang berpayung angin
kitari pandang lepas
goda jemari lamun
ah, aku menangkap embun
 
seperti kanak kanak  menjulang riang
pamerkan kunang kunang
ngerlip di tangan
sedih bila jadi kutu mati

hatihati menaruhnya di helai daun
harap bulan  memberi cahaya
dan aku menunggu
sayang, jerit ayam mengusirnya

ketika raib harap
tanpa diminta nyelam darahku 
tebar cahaya dalam nadi
meledak ledak kembangapi diri
lukis pelangi tak terbatas warna 
di kertas kata kata pelita
lentera musafir lalu

begitulah …
aku memburu
kadang cahaya, kutu mati
tergeletak di tangan berdebar
atau jadi kertas pelita
                          
Jakarta, Juni 2005Jakarta, Oktober 2005

Kunang Kunang Kata

August 9, 2007

Di telapak berdebar, ia cahaya
terbang ke langit nadi
roh menyala
mencipta diri

ia menyiram terang
bila padam … kelam
hanya dengar teriak  
dari jejak pekat
sia sia kau tebak siapa
 
kertas pelita
lentera waktu
kunang kunang kata
menulis diri

bersamanya
hasrat bercumbu
walau kita
tak pernah bertemu

di tangan sang pemburu
kerlipnya matahari                          

Jakarta, Oktober 2005