Seteguh Burung
August 9, 2007
Bahkan burung titip hidupnya pada rumput gersang
ia rajut dari kepak musim letih
nyaring siulnya pertanda waktu belum mati
di pohon ia bangun mimpi esok hari
begitulah, ia terbangi waktu
dan percaya Allah memberi ilalang
meski dari sisa rerumputan jatuh dari lahapan kuda rimba
mamah gaibNya
ia tak pernah takut pada hari
walau suatu ketika kepaknya dirobek peluru pemburu
tersangkut di ranting pohon kering
seekor lebah menjatuhkan madu pada paruhnya yang pucat
reguk gaibNya
belajarlah pada burung ia tak pernah takut hari jelang
sebab Allah menjamin hidupnya dengan bentangalam
teguhlah, segenggam hidup telah ditakar dengan rezeki tiada duga
jadilah seteguh burung meski dengan kepak luka
percaya janjiNya
walau tak dapat menebak gaibNya.
Depok, 10 Agustus 2005


